Breaking News

Pemerintah Diminta Serius Antisipasi Dampak Perang Teluk terhadap APBN* || GPN NEWS

BREAKING NEWS : GAJAH PUTIH NEWS 

*Pemerintah Diminta Serius Antisipasi Dampak Perang Teluk terhadap APBN*

      MEDIAGAJAHPUTIHNEWS.COM
WILAYAH SABANG (PULAU WEH-ACEH)
       REDAKSIGPN-NEWS-NASIONAL 

GPN NEWS || 4 APRIL 2026 || JAKARTA-Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfuz Sidik meminta pemerintah mengantisipasi dampak serius dari perang di Kawasan Teluk apabila perang semakin meluas dan menunjukkan peningkatan ekskalasinya.  

Sebab, hal itu akan berdampak pada domestik, ekonomi dan APBN Indonesia, jika harga minyak mentah dunia nantinya menembus USD 200 per barel. 

“Apakah BBM kita bisa bertahan dengan sistem subsidi, apabila 2-3 bulan ke depan misalnya, perang semakin meluas. Bagaimana dampaknya pada APBN kita?” kata Mahfuz Sidk.

Hal itu disampaikan Mahfuz Sidik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Perang Akan Segera Berakhir?, Membaca Skenario End-War Game dan Situasi Paska Perang (Aftermath) Antara AS-Israel dan Iran', Jumat (3/4/2026) malam.
Menurut Mahfuz, harga minyak mentah dunia bisa menyentuh USD 200 per barel, apabila jalur distribusi energi semua terganggu, tidak hanya di Selat Hormuz, tapi juga di Selat Bab el Mandeb dan Laut Merah. 

“Dunia akan menderita, tidak hanya Indonesia. Dunia akan mengalami krisis energi dan dunia akan  mengalami depresi ekonomi yang sangat kuat,” ujarnya.

Tersendatnya distribusi energi, kata Mahfuz, akan membawa dampak ikutan pada sektor pertanian dan pangan yang bisa menyebabkan bencana kelaparan global. 

“Ini akan menjadi bencana global. Tidak akan mampu ditanggung oleh negara sebesar dan sekuat apapun,” katanya. 

Karena itu, Mahfuz menyoroti soal kemampuan APBN 2026 dalam mengantipasi dampak tersebut, karena sepertiga APBN masih dibiayai dari utang, sehingga Indonesia tidak memiliki keleluasaan dalam mengelola anggaran. 

“Kenaikan harga BBM sekarang ini sudah menguras cadangan devisa kita. Dan kalau perang ini misalnya berlanjut sampai 6 bulan ke depan, maka sebagaimana banyak negara lain, APBN kita juga tidak akan mampu menutup ini,” katanya.

Ketua Komisi I DPR 2010-2017 ini menegaskan, bahwa perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel yang sudah memasuki pekan kelima tersebut, tidak dapat diketahui secara pasti akan berakhir.

“Saatnya sekarang pemerintah menjelaskan situasi ini secara gamblang, secara jelas, tanpa ditutup-tutupi, tanpa dikurangi atau dilebihkan. Ini harus dijelaskan kepada masyarakat seluas-luasnya,”  katanya.

Hal ini penting, bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi mengajak masyarakat secara kolektif  sebagai bangsa dan negara agar mempersiapkan diri secara bersama-sama menanggung resiko dampak perang.

“Apabila masyarakat tidak mendapat penjelasan. Dan kalau guncangan ini datangnya lebih cepat, maka bukan saja pemerintah dengan APBN-nya yang tidak siap, tapi yang kita khawatirkan adalah ada reaksi balik, ada social unrest (kerusuhan sosial),” katanya.

Kerusuhan sosial, lanjut dia, bisa terjadi karena masyarakat marah, fustasi, serta tidak siap melihat situasi dan kondisi sekarang, yang menambah beban hidup mereka sehari-hari. 

“Jadinya bukan malah bersama-sama bergandengan tangan, justru malah akan saling menyalahkan. Ini yang harus kita hindari,” tegasnya.

Mahfuz berharap pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, serta anggota dewan di DPR dan DPRD, perlu mulai berbicara skenario terpahit.

“Saya kira masyarakat kita, masyarakat yang pintar, masyarakat yang cerdas, dan masyarakat yang sudah terbiasa menghadapi situasi-situasi sulit,” katanya.

Ia berharap perang AS-Israel melawan Iran segera berakhir, sebagaimana banyak negara lain, Indonesia juga menginginkan perdamaian dunia, karena merupakan amanah konstitusi. 

“Tetapi kita perlu mendiskusikan, bagaimana Indonesia mulai meletakkan kembali strategic positioning-nya, posisi strategisnya di dalam dunia yang mulai berubah,” ujarnya.

Mahfuz menambahkan, bahwa Presiden AS Donald Trump sekarang berusaha sekuat tenaga untuk segera  mengakhiri perang, karena tekanan politik domestik yang semakin menguat terhadap dirinya.

Namun, Trump tidak mau mengaku kalah perang dengan Iran, meskipun kekuatan militernya  mengalami kehancuran, serta  kerugian besar secara finansial, dimana harus merogoh kocek USD 40  miliar  untuk membiayai perang hingga hari ini.

Pengamat politik Timur Tengah ini menilai Amerika telah menyiapkan empat skenario untuk mengakhiri permainan perang ‘End-War Game  bersama Israel.  

Adapun skenario pertama, klaim kemenangan prematur. Amerika menyatakan secara sepihak kemenangan terhadap Iran dalam perang ini, dengan mengungkapkan kekuatan militer Iran telah dilancurkan bersama Israel.

Lalu, skenario kedua, gencatan senjaran bersyarat. Ada keterlibatan pihak ketiga untuk melalukan perundingan untuk mencari titik temu negosiasi 15 poin tuntutan dari Amerika dan 7 poin tuntutan dari Iran.

Kemudian skenario ketiga, Amerika dan Israel melanjutkan serangan militer secara masif hingga mampu melumpuhkan Iran, terutama instalasi kekuatan militernya. Tetapi hal ini akan mendapatkan serangan balangan dari Iran, dan perang bisa semakin meluas.

Terakhir skenario keempat, perang berlarut dan kemungkinan penggunaan senjata nuklir.  Skenario ini hanya mungkin terjadi apabila Presiden AS Donald Trump mendapatkan persetujuan dari Kongres untuk melanjutkan perang.

“Kongres juga menyetujui  anggaran tambahan untuk perang sebesar USD 200 miliar. Kalau ini terjadi Trump tidak akan berpikir panjang, tidak akan berpikir lama untuk melanjutkan perang dengan Iran,” katanya.

“Artinya, Amerika punya nafas untuk berperang selama 200 hari lagi dengan asumsi 1 hari  USD 1 miliar. Itu berarti ada 6 bulan lebih untuk mengalahkan Iran. Tetapi sebaliknya, juga siap berperang panjang, bahkan bertahun-tahun,” pungkasnya.

*BIDANG HUBUNGAN MEDIA DPP PARTAI GELORA INDONESIA*

~Reporter/Perss GPN Sabang News Oleh Kabiro (MJ Eric Karno)

~Rilis/RedaksiNasional : GajahPutihNews.com
© Copyright 2022 - gajah putih News.com