Breaking News

DOKTOR TANPA KEDALAMAN : KETIKA AKADEMIK KEHILANGAN MARWAH

Media Gajahputihnews.com
Selasa, 28 April 2026

DOKTOR TANPA KE DALAMAN : KETIKA AKADEMIK KEHILANGAN MARWAH

Oleh :
Teuku Muhammad Jamil
Alumnus Program Doktor, Social Science, Airlangga University.
Ketua Program Doktor (S3) Pendidikan IPS, Pascasarjana USK, Aceh (2014 - 2020)

BEBERAPA hari lalu, saya berkesempatan menguji seorang kandidat doktor, di sebuah kampus ternama di sumatera. Alih-alih menemukan kedalaman, yang terasa justru kegamangan. Dari situ kembali mengemuka satu pertanyaan yang kian sulit diabaikan : mengapa semakin tinggi jenjang akademik, semakin sering kita kehilangan kedalaman berpikir? Ini bukan sekadar anomali. Ini gejala.

Dalam banyak kasus, skripsi tampak lebih rapi dan jernih dibanding tesis, bahkan disertasi. Batas epistemik yang seharusnya tegas justru mengabur. Jika doktoral adalah puncak intelektual, mengapa karya yang lahir darinya kadang terasa dangkal?

Dalam tradisi keilmuan, jenjang akademik adalah eskalasi cara berpikir : S1 meng-aplikasikan, S2 mengkritisi, S3 menciptakan.

Namun hari ini, tidak sedikit disertasi yang gagal melahirkan apa pun selain pengulangan dengan kemasan baru. Novelty menjadi jargon, bukan kenyataan. 

Yang lebih mengkhawatirkan, proses akademik perlahan bergeser dari pergulatan intelektual menjadi sekadar prosedur administratif. Bimbingan dijalani, tetapi miskin dialektika. Ujian dilaksanakan, tetapi tumpul dalam menggugat substansi. Standar ada, tetapi kerap dinegosiasikan dengan promotor yang secara kebetulan juga koleganya.

Lebih jauh lagi, relasi akademik ikut mengalami distorsi. Tidak sedikit kandidat doktor yang datang dengan orientasi “menyelesaikan”, bukan “menempa diri”. Ritme bimbingan ditekan, arah penelitian dinegosiasikan, bahkan dalam kasus tertentu, dosen didorong untuk menyesuaikan diri dengan target kelulusan mahasiswa.

Di titik ini, kita harus jujur : ini bukan lagi semata persoalan mahasiswa. Ini kegagalan sistemik. Ketika pembimbing melemah, penguji melunak, dan institusi lebih sibuk mengejar kuantitas lulusan daripada kualitas ilmu, maka yang lahir bukan doktor melainkan gelar tanpa kedalaman. 

Acapkali kuliah seharusnya dilaksanakan tatap muka (luring),  dipaksakan untuk dunia maya (daring) dengan berbagai alasan yang sulit diterima akal sehat.

Gelar doktor seharusnya menjadi simbol otoritas intelektual. Namun ketika disertasi kehilangan daya cipta, gelar itu tereduksi menjadi sekadar prestise sosial. Yang runtuh bukan hanya kualitas individu, tetapi juga kredibilitas perguruan tinggi itu sendiri.

Bahaya terbesar dari situasi ini adalah sifatnya yang senyap. Tidak ada kegaduhan, tidak ada skandal besar hanya penurunan standar yang berlangsung perlahan hingga akhirnya dianggap wajar. Ketika semua tampak “lulus”, kita berhenti bertanya siapa yang benar-benar layak.

Jika ini terus dibiarkan, perguruan tinggi tidak lagi menjadi ruang lahirnya pemikir, tetapi sekadar pabrik sertifikat akademik.

Kita membutuhkan lebih dari sekadar perbaikan teknis. Kita membutuhkan keberanian untuk mengembalikan ketegasan. “Pembimbing harus kembali menjadi penjaga mutu, bukan fasilitator kelulusan.”

“Penguji harus berani menolak, bukan sekadar mengesahkan. Dan mahasiswa doktoral harus sadar : gelar tertinggi tidak diberikan kepada yang tercepat selesai, tetapi kepada yang paling layak secara intelektual.”

Pertanyaan akhirnya sederhana, tetapi menentukan : apakah kita masih mendidik untuk ilmu, atau sekadar memproduksi gelar?

Jika jawabannya yang kedua, maka kita tidak sedang membangun peradaban pengetahuan kita sedang mempercepat kemundurannya.

Bumi Sultan Iskandar Muda, 27 April 2026

© Copyright 2022 - gajah putih News.com