Breaking News

Rektor Baru USK dan Tumpukan Pekerjaan Rumah yang Menanti

By redaksi Media Gajahputihnews.com

Rektor Baru USK dan Tumpukan Pekerjaan Rumah yang Menanti

Oleh : Teuku Muhammad Jamil 
Senior Lecture & Ilmuwan Sosial pada Sekolah Pascasarjana, USK, Banda Aceh
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh

Pelantikan Prof. Mirza Tabrani, SE, MBA sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) periode 2026–2031 pada 9 Maret 2026 menjadi momentum penting bagi masa depan universitas terbesar di Aceh tersebut. Pergantian kepemimpinan selalu membawa harapan baru, sekaligus membuka ruang evaluasi terhadap berbagai persoalan yang selama ini menjadi kegelisahan civitas akademika.

Sebagai salah seorang akademisi yang pernah menjadi anggota Senat Universitas Syiah Kuala selama satu dekade (2010–2020), saya melihat bahwa kepemimpinan baru USK tidak hanya menghadapi agenda rutin pengelolaan universitas, tetapi juga tumpukan pekerjaan rumah yang memerlukan keberanian, transparansi, dan kepemimpinan yang tegas.

Salah satu persoalan, yang paling sering menjadi keluhan dosen dan tenaga kependidikan adalah soal perpajakan penghasilan pegawai. Dalam praktiknya, berbagai penghasilan yang diterima civitas akademika telah dipotong pajak di sumbernya. Namun pada saat pelaporan tahunan, tidak sedikit yang justru mendapati status pajak masih dianggap memiliki utang  atau kurang bayar. Ada apa semua ini. Situasi ini menimbulkan kebingungan sekaligus rasa ketidakadilan, apalagi ketika laporan SPT yang disampaikan setiap tahun pada akhirnya tetap berstatus nihil. Persoalan ini bukan sekadar masalah teknis administrasi, melainkan menyangkut kepastian dan keadilan fiskal bagi pegawai universitas.

Persoalan kedua, yang tak kalah penting adalah dana kesejahteraan pegawai dan dosen USK. Selama bertahun-tahun, terdapat potongan rutin dari penghasilan civitas akademika yang diklaim sebagai dana kesejahteraan. 

Namun hingga kini, transparansi mengenai pengelolaan dana tersebut masih menjadi tanda tanya besar. Berapa jumlah dana yang telah terkumpul ? Bagaimana mekanisme pengelolaannya dan distribusinya ? Dan untuk kepentingan apa dana tersebut dimanfaatkan ? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak seharusnya dianggap sensitif, karena menyangkut hak kolektif para kontributor dana tersebut.

Isu lain yang juga penting adalah dana abadi USK. Dalam berbagai kesempatan, universitas menyampaikan komitmen untuk membangun dan mengelola dana abadi yang sudah ada sebagai fondasi keberlanjutan institusi. Namun publik kampus berhak mengetahui secara terbuka berapa sebenarnya nilai dana tersebut saat ini, bagaimana mekanisme pengelolaannya, serta di mana dana abadi USK tersebut ditempatkan. Transparansi dalam pengelolaan dana abadi merupakan salah satu indikator tata kelola universitas modern yang akuntabel.

Dalam perspektif ilmu politik dan tata kelola institusi, transparansi bukan sekadar tuntutan moral, tetapi merupakan prasyarat bagi legitimasi kepemimpinan. Universitas sebagai ruang akademik tidak boleh dikelola dengan budaya birokrasi tertutup. Sebaliknya, ia harus menjadi contoh praktik good governance yang menjunjung akuntabilitas dan keterbukaan.

Karena itu, kepemimpinan baru USK di tangan Prof. Mirza Tabrani memiliki kesempatan besar untuk melakukan audit moral dan kelembagaan terhadap berbagai kebijakan yang selama ini berjalan tanpa penjelasan yang memadai. Langkah-langkah pembenahan tersebut bukan dimaksudkan untuk mencari kesalahan masa lalu, tetapi untuk memastikan bahwa pengelolaan universitas ke depan berjalan lebih transparan, profesional, dan berpihak pada kesejahteraan civitas akademika.

Harapan civitas akademika terhadap rektor baru tentu sangat besar. USK bukan hanya institusi pendidikan tinggi, tetapi juga simbol kemajuan intelektual yang mendidik generasi emas  Aceh. Karena itu, keberanian untuk membuka persoalan lama, menjelaskan secara jujur kepada publik kampus, serta membangun sistem tata kelola yang bersih akan menjadi warisan kepemimpinan yang jauh lebih berharga daripada sekadar capaian administratif dan kampus berpredikat unggul. 

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat apakah kepemimpinan baru USK memilih jalan aman birokrasi, atau justru berani melakukan pembenahan mendasar demi masa depan universitas yang lebih bermartabat.

Sebagai bagian dari komunitas akademik yang pernah terlibat dalam dinamika kelembagaan USK selama bertahun-tahun, saya percaya bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk bertanya dan kesediaan untuk menjawabnya secara jujur. Wallahu Aklam Bisshawab.

Pojok Kampus USK, 11 Maret 2026

© Copyright 2022 - gajah putih News.com