![]() |
By Redaksi: GPNews Sabtu, 28 Maret 2026 Editor: Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si |
Melawan Politik Transaksional : Taruhan Generasi Muda dan Ujian J.M. Saiful
Demokrasi Indonesia hari ini menghadapi paradoks yang nyaris memalukan: prosedur berjalan, tetapi substansi kian menipis. Pemilu digelar secara rutin, namun politik justru semakin jauh dari gagasan. Yang tumbuh subur bukan adu visi, melainkan negosiasi kepentingan. Dalam situasi seperti ini, publik seolah dipaksa menerima satu kenyataan pahit bahwa politik telah direduksi menjadi transaksi.
Pertanyaannya: apakah kita akan terus membiarkan keadaan ini, atau mulai memberi ruang bagi generasi baru yang berani melawan arus ?
Di tengah kebuntuan itu, muncul nama J.M. Saiful, SE., MM seorang tokoh muda dari Aceh Sumatera yang mencoba menempuh jalan berbeda. Bukan jalan populer, bukan pula jalan yang mudah. Ia memilih jalur yang lebih sunyi : membangun politik berbasis pendidikan, gagasan, dan kesadaran publik.
Sebagai Koordinator Wilayah Aceh–Sumatera Ormas Gerakan Rakyat (GR), J.M. Saiful tentu bukan satu-satunya aktor dalam panggung sosial-politik. Tetapi yang membuatnya menarik adalah upayanya menempatkan politik sebagai proses edukatif, bukan sekadar alat mobilisasi. Ia tidak sekadar mengorganisir massa; ia berupaya membangun cara berpikir.
Langkah ini terasa “melawan arus” karena realitas di lapangan berkata sebaliknya. Politik lokal masih didominasi oleh pendekatan pragmatis, jangka pendek, dan sering kali transaksional. Dalam konteks ini, gagasan tentang pendidikan politik kerap dianggap utopis bahkan naif. Bahkan banyak “pengembara politik lokal” yang ingin slalu mencari ruang aman untuk masa depannya dalam berkarir.
Namun justru di situlah letak keberanian seorang J.M. Saiful.
Ia tidak berhenti pada aktivisme organisasi. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral di Universitas Syiah Kuala, dengan konsentrasi Pendidikan Politik. Di bawah bimbingan Prof. Dr. TM. Jamil, ia berada dalam ruang intelektual yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mengasah daya kritis terhadap realitas kekuasaan.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih tajam, “apakah jalur akademik ini akan memperkuat daya juangnya, atau justru menjebaknya dalam menara gading intelektual” ?
Sejarah politik Indonesia memberi cukup banyak pelajaran. Tidak sedikit intelektual yang akhirnya terserap dalam sistem yang mereka kritik. Idealisme kerap luruh ketika berhadapan dengan realitas kekuasaan yang penuh kompromi. Dalam banyak kasus, politik justru “menjinakkan” mereka yang sebelumnya vokal.
Di titik inilah J.M. Saiful sedang diuji bukan oleh lawan politik, tetapi oleh sistem itu sendiri.
- Apakah ia akan tetap konsisten menolak politik transaksional ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan?
- Apakah ia mampu menerjemahkan gagasan akademik menjadi gerakan nyata yang berdampak ?
- Ataukah ia akan menjadi satu lagi nama dalam daftar panjang intelektual yang kehilangan daya kritisnya?
Publik berhak mempertanyakan ini. Bahkan, publik harus mempertanyakan ini. Sebab demokrasi yang sehat tidak dibangun oleh kekaguman, tetapi oleh sikap kritis. Kita tidak membutuhkan figur yang sekadar dielu-elukan, tetapi yang siap diuji, dikritik, dan dipertanggungjawabkan
Meski demikian, satu hal tidak bisa diabaikan: keberanian untuk memulai sudah merupakan langkah yang langka. Di saat banyak anak muda memilih jalur aman menjadi penonton atau sekadar pengikut arus J.M. Saiful memilih masuk ke arena, dengan membawa gagasan yang tidak selalu populer.
- Ia berbicara tentang integritas di tengah budaya kompromi.
- Ia mendorong pendidikan politik di tengah apatisme publik.
- Ia menolak transaksi di tengah normalisasi praktik tersebut.
Ini bukan sekadar posisi politik. Ini adalah sikap
Menjelang Indonesia Emas, kita sering berbicara tentang bonus demografi, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan teknologi. Namun satu hal yang kerap luput: kualitas kepemimpinan. Tanpa pemimpin yang berintegritas dan berorientasi gagasan, semua potensi itu bisa menjadi sia-sia.
Di sinilah figur seperti J.M. Saiful menjadi relevan bukan karena ia sudah selesai dengan dirinya, tetapi justru karena ia masih dalam proses. Ia adalah “taruhan” generasi muda dan intelektual Aceh : apakah masih ada ruang bagi idealisme dalam politik Indonesia, atau semuanya pada akhirnya akan tunduk pada transaksi ?
Jawabannya belum pasti. Dan mungkin tidak akan pernah mudah. Tetapi sejarah selalu memberi tempat bagi mereka yang berani mengambil posisi, bahkan ketika posisi itu tidak menguntungkan.
Jika J.M. Saiful mampu bertahan bukan hanya sebagai akademisi, tetapi sebagai aktor perubahan yang konsisten maka ia bukan sekadar tokoh muda dari Sumatera. Ia bisa menjadi simbol bahwa politik Indonesia masih memiliki harapan.
Namun jika tidak, maka kita hanya akan menyaksikan satu cerita yang berulang: idealisme yang kalah oleh sistem. Dan bangsa ini, sekali lagi, harus membayar harganya.

Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor