Ketua Pemuda Pining, Jecky, melontarkan kecaman keras terhadap lambannya penanganan infrastruktur tersebut. Ia menilai pemerintah daerah terlalu lambat merespons kondisi darurat yang setiap hari membahayakan keselamatan warga.
“Pining terasa seperti ditinggalkan. Jembatan ini urat nadi masyarakat, tapi sampai sekarang masih ambruk. Kami mendesak Pemkab Gayo Lues segera menurunkan alat berat dan membangun kembali jembatan Pintu Rime. Jangan tunggu ada korban jiwa dulu baru bergerak,” tegas Jecky, akhir Maret 2026.
Jembatan yang berada di Desa Pintu Rime itu diketahui ambruk setelah diterjang banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Pining sejak akhir November 2025. Akibatnya, akses utama menuju pusat Kabupaten Gayo Lues terputus total.
Kondisi ini memaksa warga mengambil risiko besar dengan menyeberangi aliran sungai di bawah jembatan yang rusak. Situasi semakin mengkhawatirkan ketika ada pasien rujukan yang harus dibawa menuju fasilitas kesehatan. Tak jarang warga harus menandu pasien melewati jalur sungai yang berbahaya.
Data di lapangan menunjukkan, bencana yang terjadi pada akhir 2025 tersebut bahkan melumpuhkan dua jembatan utama di jalur menuju Pining. Dampaknya, wilayah tersebut sempat mengalami kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan gangguan pasokan listrik karena akses distribusi terhambat.
Perjalanan menuju Pining yang biasanya dapat ditempuh dalam beberapa jam kini berubah menjadi perjalanan panjang hingga lebih dari enam jam melalui jalur alternatif yang sulit dan berisiko.
Memang, pada awal 2026 sempat ada upaya darurat melalui gotong royong TNI dan Polri yang membantu membuka akses sementara dengan dukungan alat berat. Namun, masyarakat menilai langkah tersebut belum menjawab kebutuhan utama, yakni pembangunan kembali jembatan permanen yang kuat dan aman.
“Yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan sekadar jalur darurat. Kami butuh jembatan rangka baja yang permanen agar aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan kembali normal,” ujar Jecky.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Pining sudah terlalu lama menunggu kepastian. Infrastruktur dasar seperti jembatan, kata dia, bukan sekadar fasilitas, tetapi penopang kehidupan sehari-hari masyarakat di wilayah pedalaman.“Warga sudah sangat lelah. Akses adalah urat nadi perekonomian. Pemerintah harus hadir dengan tindakan nyata, bukan sekadar janji,” pungkasnya.
Kini masyarakat Pining berharap Pemkab Gayo Lues segera menurunkan tim teknis beserta alat berat untuk memulai pembangunan kembali jembatan tersebut sebelum kondisi semakin memburuk dan memakan korban.


Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor