Breaking News

Tim UGM Terapkan Sistem Penjernih Air Bersih dan Layak Minum Berbasis Panel Surya di Lokasi Pascabencana Bener Meriah

Tim UGM Terapkan Sistem Penjernih Air Bersih dan Layak Minum Berbasis Panel Surya di Lokasi Pascabencana Bener Meriah

Gajahputihnews.com: Bener Meriah, Aceh - Tim dosen dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menerapkan sistem penjernih air bersih dan layak minum berbasis energi surya di wilayah terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.

Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana dengan dukungan dana dari Kementerian PendidikanTinggi, Sains dan Teknologi, Tahun 2025, dan bekerja sama dengan Universitas Teuku Umar Meulaboh, Aceh.


Kegiatan dipusatkan di Desa Pantan Kemuning, Kecamatan Timang Gajah, yang sebelumnya mengalami gangguan serius terhadap akses air bersih dan pasokan listrik akibat kerusakan infrastruktur pascabencana.


Ketua Tim PKM UGM, Adhy Kurniawan, menjelaskan bahwa teknologi yang diterapkan dirancang khusus untuk kondisi darurat.
“Di lokasi bencana, air bersih dan listrik adalah kebutuhan paling mendasar. Sistem ini mengintegrasikan panel surya, pompa air, dan unit penjernih sehingga dapat beroperasi mandiri tanpa ketergantungan pada listrik PLN maupun BBM,” jelasnya.


Sistem penjernih air yang dipasang memiliki kapasitas hingga 500–1000 GPD atau setara 1.900–3.800 liter per hari, sehingga mampu memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih bagi ratusan warga, khususnya di posko pengungsian. Selain menggerakkan sistem penjernihan, energi listrik dari panel surya juga dimanfaatkan untuk penerangan malam hari dan pengisian daya perangkat komunikasi warga.


Kolaborasi Lintas Disiplin dan Multi-Aktor
Program ini melibatkan tim lintas disiplin dari UGM yang terdiri atas bidang teknik sipil dan sumber daya air, teknologi pangan, ekonomi, serta kesehatan masyarakat. Selain dosen, mahasiswa UGM juga terlibat langsung dalam proses instalasi, uji coba, dan pendampingan masyarakat.


Pelaksanaan kegiatan turut bersinergi dengan pemerintah desa, relawan lokal, serta perguruan tinggi mitra di Aceh. Pendekatan kolaboratif ini dinilai efektif dalam mempercepat respons darurat sekaligus memastikan keberlanjutan pemanfaatan teknologi oleh masyarakat setempat.


Foto pengerjaan pemasangan tenaga Surya Teknologi Tepat Guna dan Pemberdayaan Masyarakat

Tidak hanya memasang alat, tim UGM juga melakukan pelatihan langsung kepada masyarakat terkait pengoperasian dan perawatan sistem. Warga dilibatkan dalam pemasangan panel surya, pengoperasian pompa, hingga pemeliharaan unit penjernih air.


“Harapannya, teknologi ini tidak berhenti sebagai bantuan darurat, tetapi menjadi aset komunitas yang bisa dikelola secara mandiri,” tambah Adhy.


Selain penjernihan air, program ini juga terintegrasi dengan upaya peningkatan kesiapsiagaan bencana, termasuk penguatan pemahaman masyarakat terhadap potensi banjir susulan dan pentingnya sistem peringatan dini berbasis komunitas.


Dampak Nyata Pascabencana
Keberadaan sistem penjernih air bertenaga surya ini memberikan dampak langsung bagi masyarakat terdampak, terutama dalam menurunkan risiko penyakit berbasis air dan meningkatkan rasa aman warga di masa pemulihan. 

Program ini sekaligus menunjukkan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi nyata, cepat, dan berkelanjutan di tengah situasi kebencanaan.


Melalui kegiatan ini, UGM menegaskan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat, khususnya pada wilayah rawan bencana, dengan mengedepankan inovasi teknologi, kolaborasi lintas sektor, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

© Copyright 2022 - gajah putih News.com