Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

JANGAN LAGI MENJUAL HARAPAN KEPADA DOSEN


Oleh: Teuku Muhammad Jamil
Akademisi dan Pengamat Sosial

OPINI

JANGAN LAGI MENJUAL HARAPAN KEPADA DOSEN

Pendidikan Tidak Akan Maju Jika Penguasanya Lebih Gemar Berwacana daripada Bekerja

Pendidikan selalu menjadi tema yang paling indah di dalam pidato para pemimpin. Hampir setiap pemerintahan menempatkan pendidikan sebagai prioritas nasional. Dosen dipuji sebagai pencetak generasi unggul, peneliti disebut motor inovasi, dan kampus digambarkan sebagai pusat lahirnya peradaban.

Namun, setelah tepuk tangan usai dan seremoni berakhir, pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah penghormatan kepada dosen berhenti pada kata-kata, atau benar-benar diwujudkan dalam kebijakan?

Belakangan ini ruang publik kembali diramaikan oleh wacana peningkatan kesejahteraan dosen, bahkan muncul angka Rp20–50 juta per bulan dalam berbagai perbincangan. Tentu, setiap upaya meningkatkan kesejahteraan dosen patut diapresiasi jika benar-benar diwujudkan. Akan tetapi, masyarakat akademik telah terlalu sering mendengar kabar baik yang berakhir sebagai wacana.

Karena itu, yang dibutuhkan hari ini bukanlah harapan baru, melainkan kepastian. Sudah terlalu lama dosen ditempatkan sebagai simbol kemajuan bangsa, tetapi belum sepenuhnya diperlakukan sebagai aset strategis negara. Dalam setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional, nama dosen dielu-elukan. 

Dalam setiap dokumen pembangunan, pendidikan disebut sebagai investasi masa depan. Namun dalam praktiknya, peningkatan kesejahteraan, dukungan riset, dan kepastian karier masih sering bergerak lebih lambat daripada tuntutan yang dibebankan kepada mereka.

Ironisnya, negara menuntut dosen menghasilkan publikasi bereputasi internasional, membangun inovasi, menciptakan lulusan yang kompetitif, mengabdi kepada masyarakat, hingga memenuhi berbagai indikator kinerja. Semua tuntutan itu sah. Namun tuntutan tersebut seharusnya berjalan beriringan dengan penghargaan yang layak terhadap profesi dosen.

Negara tidak boleh hanya pandai menaikkan standar, tetapi lamban memenuhi tanggung jawabnya.

Ada satu penyakit yang terus berulang dalam tata kelola pemerintahan kita, yaitu terlalu mudah melahirkan wacana, tetapi terlalu lambat melahirkan kebijakan. Janji sering kali lebih cepat disampaikan daripada regulasi diterbitkan. Harapan lebih mudah dibangun daripada diwujudkan.

Dosen telah terlalu sering diminta bersabar. Bersabar menunggu reformasi. Bersabar menunggu anggaran. Bersabar menunggu regulasi. Padahal, kesabaran tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda keadilan.

Pendidikan bukan pengeluaran negara yang harus ditekan. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan masa depan Indonesia. Bangsa-bangsa maju memahami bahwa menghargai dosen bukan sekadar meningkatkan kesejahteraan individu, melainkan memperkuat fondasi ilmu pengetahuan, inovasi, dan daya saing nasional.

Karena itu, jangan jadikan kesejahteraan dosen sebagai komoditas politik yang hanya ramai dibicarakan ketika perhatian publik sedang tertuju pada dunia pendidikan

Jika memang ada komitmen untuk memperbaikinya, wujudkan melalui regulasi yang jelas, anggaran yang memadai, dan pelaksanaan yang transparan. Jika belum siap, lebih baik berkata apa adanya daripada membangun ekspektasi yang pada akhirnya berubah menjadi kekecewaan.

Bangsa ini tidak kekurangan pidato tentang pentingnya pendidikan. Yang kurang adalah keberanian untuk membuktikan bahwa pendidikan benar-benar ditempatkan sebagai prioritas dalam kebijakan.

Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada negara besar yang dibangun di atas janji. Tidak ada peradaban maju yang lahir dari pencitraan. Kemajuan selalu dibangun oleh keputusan yang berani, kebijakan yang konsisten, dan keberpihakan yang nyata kepada ilmu pengetahuan.

Penguasa boleh berganti. Menteri boleh berganti. Program boleh berubah. Namun satu hal akan tetap diingat oleh sejarah: bagaimana sebuah pemerintahan memperlakukan para pendidiknya.

Sebab dosen bukan sekadar aparatur yang menjalankan tugas mengajar. Mereka adalah penjaga akal sehat bangsa, pembentuk karakter generasi muda, dan penentu kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa banyak pidato tentang pendidikan yang pernah disampaikan.

Sejarah akan bertanya: ketika memiliki kekuasaan, apakah para pemimpin benar-benar memuliakan pendidikan, atau hanya menjadikannya sebagai slogan yang indah didengar tetapi miskin tindakan.

Bangsa ini tidak akan runtuh karena kekurangan janji. Bangsa ini akan kehilangan arah ketika para penguasanya lebih sibuk membangun citra daripada membangun manusia, lebih gemar mengumbar harapan daripada menunaikan amanah.
_________________________________________

Sekilas tentang Penulis

Teuku Muhammad Jamil adalah akademisi senior pada Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, serta pengamat sosial dan kebijakan publik. Melalui berbagai tulisan di media massa, beliau secara konsisten mengkritisi persoalan pendidikan, tata kelola pemerintahan, demokrasi, ekonomi politik, dan pembangunan Aceh maupun Indonesia. 

Baginya, pendidikan adalah investasi peradaban yang harus dibangun dengan kejujuran, keberanian, dan keberpihakan pada kepentingan rakyat, bukan sekadar menjadi bahan pidato dan janji politik.

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com