Breaking News

PROFESOR ITU JABATAN, BUKAN GELAR : BERHENTILAH MENYEMBAH STATUS, MULAILAH MENGHARGAI GAGASAN


By Redaksi: Gajahputihnews.com
Senin, 16 Juni 2026

PROFESOR ITU JABATAN, BUKAN GELAR : BERHENTILAH MENYEMBAH STATUS, MULAILAH MENGHARGAI GAGASAN

Oleh: 
Teuku Muhammad Jamil
Ilmuwan Politik dan Guru pada Sekolah Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala (USK).
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial, Aceh

Perdebatan tentang “Profesor tanpa karya” yang belakangan mengemuka sesungguhnya membuka luka lama dunia akademik kita : kegemaran mengagungkan simbol sambil melupakan substansi. Isu ini bukan sekadar tentang siapa menulis dan siapa tidak menulis, tetapi tentang bagaimana bangsa ini memahami makna seorang profesor.

Pertama-tama, ada satu hal yang harus diluruskan secara tegas.

Profesor bukan gelar. Profesor adalah jabatan akademik.

Seseorang bisa menyandang gelar doktor sepanjang hidupnya, ketika jenjang studi doktor telah diselesaikan. Namun profesor bukan identitas permanen yang melekat seperti gelar akademik. Ia adalah amanah, posisi intelektual tertinggi yang diberikan negara dan universitas kepada seseorang karena kontribusi ilmiahnya yang dianggap luar biasa.

Karena itu, ketika masyarakat memanggil seseorang “Profesor”, yang sesungguhnya sedang dihormati bukan orangnya semata, melainkan kapasitas intelektual, produktivitas keilmuan, dan tanggung jawab moral yang melekat pada jabatan tersebut.

Sayangnya, di negeri ini profesor sering diperlakukan seperti gelar kebangsawanan modern.

Setelah jabatan diraih, sebagian orang merasa telah sampai di puncak gunung. Padahal justru pada titik itulah pendakian sesungguhnya dimulai.

Profesor bukan garis finis. Profesor adalah garis start bagi tanggung jawab yang lebih besar.

Profesor Bukan Pencari Panggung

Ada pula kesalahpahaman lain yang berkembang. Seolah-olah profesor harus terus-menerus tampil di media, berkomentar setiap hari, atau aktif mencari sorotan publik agar dianggap berkontribusi.

Saya tidak sepakat

  • Profesor bukan pencari panggung.
  • Profesor tidak hidup dari popularitas.
  • Ia hidup dari gagasan.

Tetapi ketika panggung tersedia dan masyarakat membutuhkan penjelasan ilmiah, maka profesor tidak boleh bersembunyi di balik dinding kampus.

Ketika bangsa gaduh karena korupsi merajalela, profesor hukum harus bicara. Meski kadangkala Professor Hukum juga banyak yang terkena hukuman. Disinilah eksistensinya mereka dibutuhkan.

Ketika pendidikan mengalami kemunduran, profesor pendidikan harus tampil. Ketika sumber daya alam dijarah dan rakyat tetap miskin di tanah yang kaya, profesor ekonomi, politik, dan sosial tidak boleh diam.

Karena diamnya intelektual sering kali lebih berbahaya daripada kebisingan para politisi. 

Diamnya profesor menciptakan ruang kosong yang kemudian diisi oleh para influencer, buzzer, propagandis, dan para pedagang opini yang miskin metodologi tetapi kaya sensasi.

Di situlah peran profesor menjadi sangat penting sebagai penjaga akal sehat publik. Sebagaimana berbagai tulisan di ruang publik Aceh belakangan mengingatkan, masyarakat masih berharap kampus menghadirkan suara yang jernih di tengah banjir informasi dan polarisasi sosial. 

Menulis Bukan Sekadar Mengumpulkan Angka Kredit

Kritik terhadap profesor yang minim menulis sesungguhnya harus dibaca lebih dalam.

Masalahnya bukan sekadar jumlah artikel.

Masalahnya adalah orientasi intelektual.

Kita sedang menyaksikan fenomena yang ironis.

Sebagian akademisi sangat produktif menulis untuk jurnal bereputasi internasional, tetapi nyaris tidak pernah berbicara kepada masyarakatnya sendiri. Fenomena ini juga telah menjadi bahan kritik dalam diskursus akademik Aceh beberapa waktu terakhir. 

Rakyat tidak pernah membaca Scopus.

Petani tidak memahami indeks sitasi.
Nelayan tidak mengenal quartile jurnal.
Masyarakat hanya ingin mengetahui mengapa hidup mereka semakin sulit.
Mengapa harga kebutuhan pokok terus naik.
Mengapa pendidikan mahal.
Mengapa daerah kaya tetap miskin.
Mengapa korupsi tumbuh lebih cepat daripada kesejahteraan.

Di sinilah profesor harus hadir sebagai penerjemah ilmu menjadi solusi

“Jika seluruh energi intelektual hanya dihabiskan untuk mengejar indeks dan peringkat, maka kampus sedang memproduksi akademisi administratif, bukan intelektual transformatif.”

Bangsa Ini Tidak Kekurangan Profesor, Tetapi Kekurangan Keberanian Intelektual

Mari kita jujur.
Indonesia tidak kekurangan profesor.

Jumlah profesor terus bertambah setiap tahun.

Tetapi apakah kualitas diskursus publik ikut meningkat?

Apakah kualitas kebijakan publik semakin ilmiah?

Apakah tata kelola sumber daya alam semakin adil?

Apakah pendidikan semakin bermutu?

Belum tentu...

Karena persoalan utama bangsa ini bukan kurangnya profesor.

Persoalan utama bangsa ini adalah kurangnya keberanian intelektual.

Banyak orang cerdas.

Banyak orang bergelar.

Banyak orang berpangkat.

Tetapi terlalu sedikit yang berani mengatakan bahwa yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar.

Padahal sejarah membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian intelektual.

Bukan dari kenyamanan birokrasi.

Bukan dari jabatan.

Bukan dari status sosial.

Profesor dan Masa Depan Peradaban

Pada akhirnya, profesor tidak akan dikenang karena SK pengangkatannya.

Tidak pula karena tunjangan kehormatannya.

Sejarah hanya mengingat gagasan.

Kita mengenal Nurcholish Madjid bukan karena jabatannya.

Kita mengenal Buya Hamka bukan karena pangkat akademiknya.

Kita mengenal Soedjatmoko, Syed Hussein Alatas, dan para intelektual besar lainnya karena keberanian mereka mengubah cara masyarakat berpikir.

Karena itu, ukuran kebesaran seorang profesor bukanlah berapa kali namanya disebut dalam forum resmi.

Melainkan berapa banyak pikirannya hidup setelah ia tidak lagi berada di forum itu.

Profesor yang hebat bukan yang paling sering dipanggil.

Tetapi yang paling banyak meninggalkan jejak pemikiran.

Maka, marilah kita berhenti memuja status profesor sebagai simbol sosial.

Mari kita kembalikan profesor pada habitat aslinya: berpikir, meneliti, menulis, mengkritik, mencerahkan, dan membela kepentingan publik.

Sebab ketika profesor berhenti melahirkan gagasan, kampus akan berubah menjadi gedung megah yang kehilangan ruhnya.

Dan ketika kampus kehilangan ruhnya, bangsa ini kehilangan salah satu mercusuar terpenting bagi masa depannya.

Kota Madani, 01 Muharram 2026-H

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com