OPINI
DOB PEUREULAK RAYA DAN MONISA : MENGAPA WARISAN BESAR INI TERUS MENUNGGU?
Aspirasi pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Peureulak Raya sesungguhnya tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari sejarah panjang, identitas kolektif masyarakat, kebutuhan pelayanan publik, serta keinginan menghadirkan pembangunan yang lebih merata bagi kawasan timur Aceh.
Karena itu, perjuangan DOB Peureulak Raya tidak boleh dipahami sekadar sebagai agenda administratif pemekaran wilayah. Lebih dari itu, ia merupakan ikhtiar politik, sosial, ekonomi, dan kultural untuk mengembalikan posisi strategis Peureulak dalam sejarah Aceh dan Nusantara.
Peureulak Bukan Daerah Biasa.
Dalam banyak kajian sejarah, Peureulak disebut sebagai salah satu pusat peradaban Islam tertua di Nusantara bahkan Asia Tenggara. Sejumlah penelitian akademik menyebut Kesultanan Peureulak sebagai kekuatan politik Islam awal yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di kawasan ini.
Ironisnya, kebesaran sejarah tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi, wisata, pendidikan, dan pembangunan daerah.
Inilah paradoks yang harus dijawab.
Bagaimana mungkin daerah yang memiliki warisan sejarah besar justru masih berjuang memperoleh perhatian yang layak?
Bagaimana mungkin daerah yang disebut-sebut sebagai salah satu titik awal peradaban Islam di Nusantara belum mampu menjadikan sejarahnya sebagai sumber kesejahteraan rakyat?
Pertanyaan ini penting diajukan ketika kita membicarakan DOB Peureulak Raya.
Sebab pemekaran sejatinya bukan tujuan akhir.
Pemekaran hanyalah instrumen.
Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat.
Dalam perspektif teori desentralisasi, pemekaran wilayah dilakukan untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan, mempercepat pelayanan publik, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan mendorong percepatan pembangunan ekonomi lokal.
Jika diukur dari perspektif tersebut, argumentasi pembentukan Kabupaten Peureulak Raya memiliki dasar yang cukup rasional.
Wilayah Aceh Timur yang luas menyebabkan pelayanan pemerintahan tidak selalu dapat menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat secara optimal. Kehadiran pemerintahan yang lebih dekat diyakini mampu mempercepat pelayanan administrasi, pembangunan infrastruktur, dan pengelolaan potensi ekonomi daerah.
Namun ada satu potensi besar yang selama ini nyaris terlupakan dalam perdebatan tentang DOB Peureulak Raya.
Potensi itu bernama MONISA.
Monumen Islam Asia Tenggara atau MONISA selama ini lebih sering hadir sebagai simbol sejarah daripada aset pembangunan.
Banyak orang mengenalnya.
Sedikit yang memperjuangkannya.
Lebih sedikit lagi yang menjadikannya agenda pembangunan.
Padahal MONISA dibangun untuk menandai kebesaran Kesultanan Peureulak sebagai bagian penting sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Asia Tenggara.
Di kawasan itu terdapat makam Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah yang diyakini sebagai salah satu tokoh penting Kerajaan Islam Peureulak.
Berulang kali muncul laporan bahwa situs MONISA tidak memperoleh perhatian yang memadai, akses menuju lokasi kurang memadai, dan pengembangannya berjalan sangat lambat.
Dalam bahasa yang lebih lugas, MONISA selama ini terkesan seperti artefak keramat yang hanya dikunjungi pada momentum tertentu, lalu kembali dilupakan.
Padahal di banyak negara, situs sejarah seperti ini menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat besar.
Lihat bagaimana Turki mengelola peninggalan Kesultanan Utsmaniyah.
Lihat bagaimana Malaysia mengelola Melaka.
Lihat bagaimana Arab Saudi mengelola situs-situs sejarah Islam.
Sejarah tidak hanya dijaga. Sejarah diubah menjadi kekuatan ekonomi.
Sejarah diubah menjadi destinasi wisata.
Sejarah diubah menjadi pusat riset.
Sejarah diubah menjadi sumber pendapatan masyarakat.
Pertanyaannya, mengapa MONISA belum mampu menjadi seperti itu?
Jawabannya sederhana.
Karena sejarah selama ini lebih banyak dipidatokan daripada dikelola.
Lebih banyak diperingati daripada dikembangkan.
Lebih banyak dibanggakan daripada diinvestasikan.
Karena itu saya melihat bahwa perjuangan DOB Peureulak Raya seharusnya tidak berhenti pada pembentukan kabupaten baru semata.
Perjuangan tersebut harus dibarengi dengan visi besar pembangunan kawasan berbasis sejarah dan peradaban.
Jika suatu saat Kabupaten Peureulak Raya terwujud, maka MONISA harus ditempatkan sebagai ikon utama daerah.
- Bukan hanya sebagai situs sejarah.
- Tetapi sebagai pusat wisata religi.
- Pusat studi peradaban Islam Nusantara.
- Pusat penelitian sejarah Islam Asia Tenggara.
- Pusat festival budaya Islam internasional.
- Pusat ekonomi kreatif masyarakat.
Jika dikelola secara serius, MONISA dapat menjadi magnet wisata sejarah dan wisata religi yang mampu mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
Artinya, DOB Peureulak Raya memiliki peluang membangun fondasi ekonomi yang berbeda dengan banyak daerah lain.
- Ia tidak hanya mengandalkan APBK.
- Ia memiliki modal sejarah yang dapat dikonversi menjadi kekuatan ekonomi.
Di sinilah saya melihat hubungan strategis antara perjuangan DOB dan revitalisasi MONISA.
Keduanya tidak boleh dipisahkan.
DOB tanpa agenda pembangunan sejarah akan kehilangan identitas.
Sementara MONISA tanpa kekuatan politik pembangunan akan terus menjadi monumen sunyi yang hanya dikenang dalam seminar dan pidato.
Secara politik, peluang DOB Peureulak Raya tentu sangat bergantung pada dukungan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, DPRK, Pemerintah Aceh, DPRA, serta pemerintah pusat.
Karena itu seluruh elemen masyarakat harus membangun konsensus besar.
Tidak boleh ada rivalitas wilayah.
Tidak boleh ada ego sektoral.
Tidak boleh ada pertentangan antara daerah induk dan calon DOB.
Yang harus dibangun adalah keyakinan bahwa pemekaran merupakan jalan untuk memperkuat pelayanan rakyat dan mempercepat pembangunan kawasan.
Sebagai putra daerah, saya memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terus memperjuangkan lahirnya Kabupaten Peureulak Raya.
Namun saya juga ingin mengingatkan bahwa perjuangan ini tidak boleh berhenti pada perubahan peta administrasi.
Peureulak membutuhkan lebih dari sekadar kabupaten baru.
- Peureulak membutuhkan kebangkitan baru.
- Kebangkitan sejarah.
- Kebangkitan ekonomi.
- Kebangkitan pendidikan.
- Kebangkitan peradaban.
Dan kebangkitan itu harus dimulai dari keberanian kita menghentikan kebiasaan memuja masa lalu tanpa membangun masa depan.
Karena sesungguhnya warisan terbesar Kesultanan Peureulak bukanlah makam, bukan pula monumen. Warisan terbesar Kesultanan Peureulak adalah semangat membangun peradaban.
Dan peradaban tidak akan pernah lahir dari romantisme sejarah semata. Peradaban lahir dari keberanian mengubah sejarah menjadi kekuatan untuk masa depan.

0 Komentar