Gajahputihnews | Gayo Lues, Pining – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Pining sejak Selasa, 31 Maret 2026, menyebabkan Sungai Aih Kulit meluap dan mengalir ke permukiman warga di Kampung Pertik. Kondisi ini diperparah karena alur sungai yang hingga kini belum dinormalisasi pasca bencana hidrometeorologi yang terjadi pada 26 November 2025 lalu.

Laporan tersebut disampaikan langsung oleh Pengulu Kampung Pertik, Zainal Abidin, pada Rabu (1/4/2026). Ia menjelaskan bahwa luapan Sungai Aih Kulit tidak hanya menggenangi permukiman warga, tetapi juga membawa material pasir yang menimbun sejumlah bangunan penting di kampung tersebut.

“Curah hujan yang sangat lebat menyebabkan Sungai Aih Kulit meluber. Kondisi ini terjadi karena alur sungai belum dinormalisasi sejak bencana hidrometeorologi tahun lalu, sehingga aliran sungai kini berpindah dari jalurnya dan masuk ke kawasan pemukiman serta fasilitas umum,” ujar Zainal.

Akibat kejadian tersebut, sejumlah fasilitas umum ikut terdampak cukup parah. Gedung SMA Negeri 1 Pining dilaporkan terendam air dan tertimbun material pasir yang terbawa arus sungai. Selain itu, menasah atau mushalla Kampung Pertik juga ikut terendam dan tertimbun pasir.

Lebih parah lagi, alur Sungai Aih Kulit kini dilaporkan berubah arah dan mengalir di sisi depan serta belakang menasah kampung. Bahkan kondisi jembatan Aih Kulit saat ini dilaporkan kering total karena aliran sungai telah berpindah dari jalur semula.

Tidak hanya fasilitas umum, rumah warga juga mengalami kerusakan akibat banjir dan timbunan material pasir. Sebanyak 13 rumah warga dilaporkan terdampak dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.

Rumah warga yang mengalami dampak antara lain milik Maan Aman Billa (rusak sedang), Kamasiah (rusak sedang, lansia), Sabri (rusak sedang), Irwan (rusak berat), Ahmad (rusak berat), Jemalul (rusak sedang), Abdul Wahab (rusak berat), Salim (rusak berat), M. Amin (rusak berat), Setia Budi (rusak berat), Kader (rusak berat), Muhammad Ali (rusak berat), dan Habibi (rusak ringan).

Secara keseluruhan terdapat 13 unit rumah yang rusak, dengan jumlah masyarakat terdampak mencapai 16 kepala keluarga. Hal ini karena terdapat tiga rumah yang ditempati oleh dua kepala keluarga, yaitu rumah milik Winni Raja, Zulkifli, dan Inen Martiah yang diketahui merupakan warga lanjut usia.

Saat ini masyarakat Kampung Pertik bersama aparat gabungan tengah melakukan gotong royong untuk membersihkan lumpur dan material pasir yang menimbun rumah serta fasilitas umum. Kegiatan ini turut dibantu oleh Babinsa, personel TNI dari Batalyon TP 855/RD yang ditempatkan di Pining, serta tim dari Pemadam Kebakaran Kecamatan Pining.

Warga menggunakan berbagai peralatan sederhana seperti cangkul, sekop, dan beko sorong untuk mengangkat material lumpur yang menumpuk di rumah-rumah warga dan area fasilitas umum.

Namun demikian, masyarakat berharap adanya bantuan yang lebih besar dari pemerintah, khususnya dalam hal penanganan alur Sungai Aih Kulit yang kini telah berpindah dari jalur semula.

Menurut Pengulu Kampung Pertik, langkah paling mendesak saat ini adalah melakukan normalisasi sungai dengan menggunakan alat berat agar aliran Sungai Aih Kulit dapat kembali ke jalur aslinya dan tidak lagi mengancam permukiman warga.

Selain itu, warga juga sangat membutuhkan bantuan peralatan untuk membersihkan lumpur, seperti cangkul, sekop, dan gerobak sorong, serta bantuan kebutuhan pokok untuk mendukung kehidupan sehari-hari masyarakat yang terdampak.

“Kami berharap pemerintah segera menurunkan alat berat untuk menormalisasi Sungai Aih Kulit. Saat ini aliran sungai sudah tidak lagi melewati jalurnya dan justru mengalir ke arah SMA dan menasah Kampung Pertik,” tambah Zainal.

Selain kerusakan rumah dan fasilitas umum, bencana ini juga menyebabkan jaringan air bersih di kampung tersebut mengalami kerusakan sehingga menyulitkan warga untuk mendapatkan pasokan air bersih.

Masyarakat Kampung Pertik kini berharap perhatian dan langkah cepat dari pemerintah daerah agar penanganan dampak bencana dapat segera dilakukan, terutama dalam normalisasi sungai dan pemulihan infrastruktur dasar yang rusak.

Dengan kondisi sungai yang telah berubah jalur, warga khawatir jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, banjir dan kerusakan yang lebih besar dapat kembali terjadi di wilayah tersebut.


(Kang Juna)